Meningkatnya jumlah pengguna drone di dunia menimbulkan kesadaran di tiap negara akan pentingnya regulasi yang mengatur lalu lintas drone yang mulai berdesakkan di langit, dan kini, para peneliti dari Universitas VU Amsterdam tengah mengembangkan cara untuk memastikan drone-drone tersebut tidak saling bertabrakan dengan benda terbang lainnya.

Dengan berita terbaru dari FAA di 2016 yang menyatakan banyaknya drone yang teregristrasi melebihi jumlah pesawat terbang, kini rencana menciptakan jasa pengiriman menggunakan drone mengalami kemunduran dikarenakan oleh perbedaan yang terjadi di dalam simulasi dan di dunia nyata, sesuai dengan yang telah dijelaskan pleh Dr. Agoston E. Eiben, profesor ilmu komputer di Universitas VU.

“Kita memiliki industri e-commerce yang cukup besar. Jika jasa pengiriman menggunakan drone semakin besar maka lingkungan perkotaan akan dilanda masalah yang timbul oleh hiruk pikuk drone yang berbagi ruang di langit,” ungkap Eiben. “Dibutuhkan software dengan teknologi baru untuk memastikan drone-drone ini tidak saling bertarbrakan.”

teknologi drone untuk kurir

Menurut Dr. Gábor Vásárhelyi, jawabannya terletak pada pergerakan burung yang terbang secara kolektif namun bisa saling tidak bertabrakan satu sama lain. Eiben menjelaskan bahwa pengembangan teknologi drone baru yang meniru bagaimana sistem burung terbang sebagai “komputasi alami”.

Para peneliti ini mengamati merpati dengan alat GPS selama 6 tahun untuk meniru formasi terbang burung-burung ini yang kemudian nantinya akan diterapkan dan diujicobakan pada drone.

Untuk para peneliti drone, memiliki sistem yang memungkinkan alat mereka terbang tersingkronisasi akan menjadi langka krusial untuk menguasai jalur pengiriman di dunia nyata.

Simulasi meniru pergerakan burung yang terbang dalam kelompok dengan menggunakan 30 drone otonom pernah diujicobakan di sebuah area tertutup dengan kecepatan 6 m/s (13.4 mph) dengan menggunakan metode yang dikembangkan oleh Vásárhelyi dan kawan-kawan, yang membangun drone dan mengimplementasikan model yang terinspirasi dari burung.

Teknologi ini disempurnakan oleh tim ahli software, Eiben dan kawan-kawan, yang sukses menerbangkan 30 quadcopter yang bisa mengatur dirinya sendiri menggunakan modul GPS. Layaknya burung, 30 quadcopter ini tidak hanya memperkirakan jarak terdekat tapi juga menghitung kecepatan dan percepatan masing-masing agar tidak terjadi tabrakan.

News Reporter